
Psikotes Kerja: Jenisnya, Apa yang Diukur, dan Cara Mengerjakannya
Cari kerja jadi mudah di Lokerin.co.id
Bukan ujian yang bisa lulus atau gagal, tapi juga bukan formalitas. Yang membedakan biasanya bukan kepintaran, melainkan cara mengerjakannya.
Psikotes saat melamar kerja bukan ujian yang bisa lulus atau gagal, tapi juga bukan formalitas. Yang membedakan hasil bagus dan hasil buruk biasanya bukan kepintaran, melainkan cara mengerjakannya.
Jenis-jenisnya, dan apa yang diukur
Psikotes rekrutmen di Indonesia biasanya gabungan beberapa alat. Yang paling sering muncul:
Tes kepribadian (DISC, MBTI, Papikostick). Tidak ada jawaban benar. Yang diukur kecenderungan cara kerja, dan yang dicari kecocokan dengan posisinya.
Tes kecermatan. Deretan angka atau simbol yang harus dicocokkan secepat mungkin. Yang diukur ketelitian di bawah tekanan waktu, bukan kepintaran.
Tes logika dan angka. Deret angka, pola gambar, soal cerita. Yang diukur cara berpikir.
Wartegg dan Draw a Person. Menggambar melanjutkan garis, atau menggambar orang. Yang diukur cara menghadapi hal yang belum jelas.
Tes koran (Kraepelin/Pauli). Menjumlahkan angka berderet-deret selama puluhan menit. Yang diukur ketahanan dan kestabilan kerja, bukan kemampuan berhitung.
Yang paling menentukan: konsistensi
Ini yang paling sering tidak diketahui pelamar.
Tes kepribadian yang disusun benar memuat pernyataan yang dibalik artinya. Satu pernyataan berbunyi "Saya teliti memeriksa hasil kerja", pernyataan lain di bagian berbeda berbunyi "Saya kadang melewati langkah supaya cepat selesai". Orang yang menjawab "sangat sesuai" untuk keduanya sedang memberi tahu pemeriksa bahwa dia tidak membaca.
Hasilnya berupa angka konsistensi. Hasil dengan konsistensi rendah dibaca sebagai "jawaban ini tidak bisa dipakai", dan itu kesan yang jauh lebih merugikan daripada skor apa pun.
Jadi menjawab yang terdengar bagus justru merugikan Anda, karena yang terdengar bagus di satu pernyataan akan bertabrakan dengan pernyataan kebalikannya.
Enam hal yang menentukan hasil Anda
- Tidur cukup malam sebelumnya. Tes kecermatan dan tes koran langsung terpengaruh rasa kantuk, dan itu terbaca di grafiknya.
- Sarapan. Tes koran bisa berjalan satu jam penuh. Kadar gula darah yang turun terlihat sebagai penurunan hasil di paruh kedua, dan itu dibaca sebagai ketahanan yang rendah.
- Bawa alat tulis sendiri. Pensil 2B, penghapus, dan peruncing. Jangan mengandalkan pinjaman.
- Jawab cepat pada tes kepribadian. Jawaban pertama biasanya yang paling jujur.
- Jangan kosongkan jawaban. Pada tes kepribadian, jawaban yang dikosongkan membuat bagian itu tidak bisa dihitung.
- Kerjakan tes kecermatan berurutan, jangan melompat. Melompat membuat baris tergeser, dan satu pergeseran merusak seluruh sisanya.
Yang tidak perlu Anda lakukan
Menghafal jawaban dari internet. Untuk tes kepribadian tidak ada jawaban yang bisa dihafal. Untuk tes logika, soalnya berganti.
Menggambar orang paling bagus. Pada Draw a Person yang dilihat kelengkapan dan cara menggambarnya, bukan bagus tidaknya. Gambar orang utuh dari kepala sampai kaki, beri wajahnya, jangan setengah badan.
Berpura-pura jadi orang lain. Kalaupun berhasil di kertas, Anda akan ditempatkan di posisi yang tidak cocok dengan Anda, dan itu ketahuan dalam dua bulan.
Kalau hasilnya tidak sesuai harapan
Hasil tes kepribadian bukan vonis, dan bukan tetap seumur hidup. Orang yang sama bisa mendapat hasil berbeda setelah beberapa tahun dan setelah berganti pekerjaan.
Kalau Anda tidak lolos, penyebabnya jarang "kepribadian Anda buruk". Yang lebih sering terjadi: kecenderungan Anda tidak cocok dengan posisi itu. Posisi lain di perusahaan yang sama bisa jadi cocok.
Mencoba dulu sebelum menghadapinya
Kalau Anda belum pernah mengerjakan tes kepribadian, mengerjakan sekali dalam keadaan tenang membuat Anda tahu bentuk soalnya, dan mengurangi kaget saat menghadapinya di ruang rekrutmen.
Lokerin menyediakan tes DISC gratis di dashboard Talent, 48 pernyataan, sekitar 7 menit. Hasilnya bisa Anda baca sendiri, termasuk angka konsistensi jawaban Anda.
Untuk tahap berikutnya, latihan wawancara memuat 56 pertanyaan yang benar-benar ditanyakan, lengkap dengan apa yang sebenarnya dicari pewawancara di tiap pertanyaan.
